+ TB kok bisa ? Ini dia ceritanya

Swafoto dulu sama Keenan selesai dari Lab



Berawal dari sakit batuk dan pilek yang datang setiap tahun bahkan bisa dalam satu bulan 2 sampai 3 kali frekuensi batuk pilek suka kumat. Kalau soal kebersihan saya paling senang bersih dan tak suka sama rumah yang kotor dan lembab. Apalagi terbantu kondisi kontrakan saya saat ini berada tepat menghadap matahari terbit jadi sudah pasti sirkulasi udara dan cahaya cukup bagus. Sehingga tidak ada terbesit pikiran bahwa saya akan menderita TB.


Pemeriksaan Rontgen dada di RS IMC Bintaro 

Antrian ke poliklinik paru


Awalnya sakit batuk ini muncul kembali ketika saya selesai berpergian dari rumah saudara yang berada di Jakarta, selang 2 hari dari berpergian itu kok badan malam nya mulai ngedrop , mengigil, batuk bahkan pilek dan sakit kepala tapi tidak demam. Anggapan saya apakah kena covid 19 atau ada penyakit 3 tahun lalu yang kumat yaitu kelebihan cairan di paru paru sebelah kiri.


Sakit jalan ada 4 hari saya mulai beranikan diri berobat ke klinik kimia Farma terdekat dari rumah, hasilnya hanya batuk biasa diberikan obat antibiotik. Dan karena ga ada demam jadi ga ke arah covid19.


Abis minum obat itu selang beberapa hari saya agak mendingan tapi malah jadi nular ke suami dan anak-anak pada batuk dan pilek kasian mereka kena dari saya.


Itu sudah di Minggu ke 2 bulan Juli 2021, kok saya merasa aneh karena tiba-tiba saya batuk kembali dan merasakan tubuh mengigil dingin sampai selimutan ketika tidur malam itu.


Akhirnya beranikan diri ke rumah sakit , bertemu dokter sp penyakit dalam disarankan Rontgen dada karena dikira efusi pleura adanya cairan abnormal dalam paru, ketika hasil keluar ehh dokter bilang ini diagnosa pnemonia. Diberikan obat antibiotik untuk mengatasi batuk dan adanya sesak nafas. Seminggu lagi balik kontrol untuk lihat perkembangan dari obat yang sudah dikonsumsi.


Tapi saya belum puas dengan jawaban dari dokter disana , biaya yang dikeluarkan juga terbilang terjangkau sih, sekitar 300ribu sudah sama obat, Konsul dokter dan Rontgen dada. Diagnosa Rontgen pertama : Pnemonia 


Lanjut kontrol ke RS Sari Asih Ciputat di Minggu ke 4 ( niatnya sekalian mau tanya apa boleh ikut vaksin covid 19)

menunggu di pendaftaran pasien umum 


Langsung daftar by wa chat only dan dapat dokter sp paru perempuan, lumayan ya dokternya meskipun agak jutek ketika beliau tanya saya sudah di swab , malah saya dengarnya beliau mengatakan sesak nafas! Ehh dia bentak dan berkata SWAB!!!


Baru deh dengar oh swab saya bilang udah kemarin hari Jumat 23 Juli 2021, hasilnya negatif dok. Dokter itu langsung nulis di catatan pasien..


Dan dokter ini yang suruh saya untuk cek dahak di RSUD Tangsel, wahhh bolak balik saya ke RS untung masih dekat lokasi nya, dan buat saya sangat kurang komunikasi antaran dokter ke pasien. Perihal memberikan informasi gambaran hasil Rontgen saja cuma sekedarnya ya mungkin capek kali ngomongnya.. padahal saya pengen tau itu gimana hasil Rontgen ke 2 saya.


Dokter hanya kasih tau adanya kabut dalam paru-paru, udah itu doang dan kalau memang hasil dahak nanti + TB harus rutin minum obat selama 6 bulan. 


Yaudah sambil nunggu dahak biar bisa keluar akhirnya saya istirahat aja dulu dirumah , Senin pagi baru deh berhasil dahak itu keluar. Biaya berobat kemarin itu habis 400ribuan lah. Obat, Konsul dokter + admin , dan biaya Rontgen dada.


Hasil dahak keluar dan ternyata saya MTB DETECTED LOW, RIF RESISTANCE NOT DETECTED

Hasil Cek Dahak


Artinya apa silakan terjemahkan di google translate hihihi! Langsung balik ke RS lagi dan karena dokter paru yang suruh saya cek dahak sedang cuti akhirnya sama dokter paru lain, Alhamdulillah sama dokter yang satu ini cukup jelas kasih tau saya apa itu MTB, dan pengobatan nya bagaimana. Dan ia mau menjelaskan semua gambar Rontgen dada saya. Beda sama dokter sebelumnya rada jutek! Tapi yang ini sama aja sih jutek juga apa emang itu dokter SOP nya jutek kali ya ga ada senyum-senyumnya!



Fix rutin minum obat 6 bulan dan bagaimana efek kebadan saya... 

Obat OAT TB

Tepat 7 Agustus 2021 baru sehari sih minum obatnya udah mau nyerah masa, karena bentuk obat yang merah gede bikin saya sudah menelannya , terus badan berasa pegal kaya abis lari maraton capek banget, kalau durasi batuk masih ada meskipun jarang-jarang. Lalu ada gatal sedikit dibagian belakang leher, kepala belakang berasa nyer , mata ngantuk dan kering. Suasana hati turun naik kadang bisa bahagia , kadang murung dan rasanya ingin marah. Warna urine berubah jadi warna merah semenjak minum obat TB itu. 


Sebelumnya memang dokter sudah jelaskan bahwa nanti akan berubah warna urine, lalu harus rajin minumnya agar segera sembuh. Disini saya berobat pakai tunai alias ga pakai bpjs karena menunggu terlalu lama dan tidak enak! Tapi mulai besok saya akan coba ke faskes 1 untuk minta rujukan agar bisa memanfaatkan bpjs yang ada. Lumayan juga biaya tak terduga andai dokter menyarankan untuk cek darah, pemeriksaan lab atau Rontgen dada kembali, disaat pandemi seperti ini tentu harus meminimalisir biaya pengeluaran agar tak membengkak dan bisa disimpan untuk yang lain.

Yang saya tahu untuk pengobatan TB ini sesungguhnya gratis dan tidak ada biaya sama sekali, tapi faktanya jika berobat di RS swasta tentu ada biaya biaya administrasi.

2 Minggu lagi kontrol balik untuk melihat nanti hasil kemajuan dari konsumsi obat TB tersebut, lalu akan ada juga pemeriksaan di 2 bulan pengobatan. 


Kunci nya Sabar, Tawakal, ikhlas dan pasrah aja sama Allah SWT.. karena tanpa kekuatan dariNYA saya lemah dan saat menulis ini aja hati saya menangis mengapa harus saya, mengapa kok bisa saya kena? Dan masih ga percaya aja kok bisa saya!


Saya lupa kalau tidak salah pernah di tahun 2017 atau 2018 saya pernah datang di acara TB undangan khusus blogger kesehatan dari komunitas blogger dan disana tema nya membahas mengenai penyakit TB ini


Silakan di baca .. pernah bahas juga :)


Ternyata TB itu ada dimana-mana, tak terlihat dan bisa aja ada di sekitar kita, etika batuk juga masih minim yaa sebagian orang melakukannya.


Jadi mustahil bagi kita menganggap remeh TB ini, karena banyak diluar sana yang belum paham atau baru tahu setelah TB nya semakin parah.


Beruntung saya cepat kontrol dan segera mendapatkan pengobatan sesuai masalah dan gejala yang ada pada tubuh saya.


Doakan ya kawan kawan semoga saya tabah,kuat dan sabar menjalankan proses pengobatan ini. Cukup depresi saya dan kepikiran akan obatnya ini apalagi susah untuk saya menelannya karena sehari 3 tablet di minum sebelum makan. Dan tidak boleh stop kalau stop harus dari awal lagi.

Tidak ada komentar